May 10, 2011

DAMPAK KRISIS EKONOMI UNI EROPA TERHADAP EKSPOR INDONESIA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan liberalisasi perdagangan yang memberikan kesempatan besar kepada Negara-negara di dunia untuk melakukan perdagangan dengan Negara lain dengan aturan yang semakin memudahkan mereka, seperti penurunan bahkan penghapusan pajak impor, bea cukai, dan trade barriers lainnya. Hal ini menjadi peluang yang kemudian dimanfaatkan oleh Negara-negara, khususnya Negara berkembang, termasuk Indonesia untuk meningkatkan ekspornya ke Negara-negara maju, seperti Amerika dan Eropa.

Hubungan antara Indonesia dan Uni Eropa telah berlangsung semenjak tahun 1967, ketika Uni Eropa masih dalam bentuk masyarakat ekonomi eropa (european economic community). Selama ini ekspor Indonesia ke Eropa dan Amerika termasuk besar, selain ke Negara di Asia Tenggara dan Asia timur. Hal ini karena keberadaan Uni Eropa dan Amerika sebagai pasar tradisional yang banyak mengekspor barang mentah untuk kebutuhan industri di Negara tersebut.

UE dan Indonesia telah lama memiliki hubungan baik melalui kerjasama perdagangan dan sebagai pasar tujuan ekspor Indonesia yang potensial. UE merupakan pasar utama terbesar bagi Indonesia setelah Amerika Serikat dan Jepang. Ekspor Indonesia ke UE pada tahun 2008 tercatat sebesar 15,45 milyar dollar AS , sedangkan impor Indonesia dari UE pada tahun 2008, tercatat sebesar US$ 10,5 milyar dollar AS.[1]

Perkembangan hubungan bilateral RI-UE tidak terlepas dari dinamika perkembangan yang terjadi di Uni Eropa (UE) dan Indonesia. Sementara sejak krisis yang dialami oleh Yunani yang ternyata memberikan efek domino terhadap Negara lain di Uni Eropa menjadi sebuah pertanyaan apakah hal ini berdampak terhadap hubungan kerjasama yang dibangun oleh Indonesia ke kawasan itu.

Krisis Eropa yang diawali dengan kejatuhan Yunani baru terdeteksi pada akhir 2009 yang dipicu oleh melonjaknya beban utang dan defisit fiskal negara anggota Uni Eropa. Dengan melihat fenomena itu, penulis kemudian mengambil judul “Dampak Krisis Ekonomi Eropa terhadap Ekspor Indonesia” untuk kemudian diamati, apakah memiliki hubungan atau tidak.

  1. B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, penulis akan memberikan batasan untuk penelitian dalam makalah ini, antara lain:

`        1. Bagaimana krisis yang terjadi di Uni Eropa?

2.  Bagaimana ekspor Indonesia ke Uni Eropa?

3. Apakah dampak dari krisis Uni Eropa terhadap ekspor Indonesia?

  1. C. Tujuan Penulisan

Dalam penulisan makalah ini, ada beberapa tujuan yang ingin diperoleh, antara lain:

1. Untuk mengetahui gambaran krisis yang terjadi di Uni Eropa

2.  untuk mengetahui ekspor Indonesia ke Uni Eropa

3. untuk mengetahui dampak dari krisis Uni Eropa terhadap ekspor Indonesia ke Uni Eropa

BAB II

KONSEP

  1. A. Krisis Ekonomi

”Resesi ekonomi terjadi ketika seluruh permintaan melempem, dan output (pertumbuhan barang dan jasa) gagal meningkat. Secara teknis, kondisi resesi terjadi saat suatu perekonomian menunjukkan gejala ini selama lebih dari dua kuartal fiscal secara berturut-turut, dan diikuti dengan kemerosotan dalam ketenagakerjaan. Resesi adalah kemunduran ekonomi dan dalam situasi yang keras dan panjang, resesi dapat diperlunak dan dapat dengan mudah dikoreksi oleh campur tangan bankir-bankir sentral pemerintah dan perusahaan swasta.” [2]

Kecenderungan di suatu ekonomi akan berdampak pada mitra dangangnya di manapun, karena penurunan daya beli dan kemampuan memproduksi akan menjalar dari satu Negara ke Negara lain atau kawasan lain. Dalam menganalisis penyebab terjadinya krisis ekonomi yang terjadi di Uni Eropa, ada teori yang dapat digunakan sebagai kacamata analisis, yaitu:

  1. 1. Teori contagion

Teori ini menjelaskan dampak krisis ekonomi yang menimbulkan adanya contagion effect yaitu menularnya dengan amat cepat dari satu Negara ke negara lain. Hal ini jelas terlihat pada kasus krisis yang melanda Uni Eropa yang diawali terlebih dahulu oleh Yunani.

  1. 2. Teori business cycle (konjungtur)

Teori ini menjadi salah satu yang bisa digunakan untuk menganalisis krisis yang melanda di Uni Eropa karena proses ekonomi berdasarkan  mekanisme pasar (ekonomi kapitalis) selalu menunjukkan gelombang pasang surut dalam bentuk naik turunnya variabel-variabel makro.[3]

  1. B. Kebijakan Ekspor-Impor

Perekonomian barat memiliki pendekatan yang agresif baik untuk ekspor maupun impor berdasarkan prinsip pertumbuhan dapat difasilitasi dengan baik dengan adanya pertukaran daripada mengakumulasi karakteristik uang dari perekonomian merkantilis. Mengejar keseimbangan bukan surplus atau defisit adalah ideal bagi mereka. Adanya pilihan atau tidak adanya pilihan, atas perdagangan telah sangat mempengaruhi status dari setiap pemain di pasar global. Ternyata tidak ada ‘tangan ajaib’ Adam Smith yang dapat menentukan terbentuknya blok kebijakan perdagangan. Hal ini hanya oleh badan internasional. Strategi kebijakan perdagangan, dipilih oleh sebagian dan ditinggalkan seluruhnya, ditetapkan oleh pemerintah dengan bantuan formulasi pemimpin bisnis dan bahkan militer. [4]

Tarif ekspor ditetapkan agar barang dan jasa yang penting tidak meninggalkan batas Negara. Tarif seperti itu juga ditetapkan dalam pasar tenaga kerja yang murah untuk menarik pajak atas produser asing yang mengekspor barang dan jasa bernilai tambah untuk meningkatkan keuntungan. Hal ini merupakan isu domestik walaupun pengaruhnya dapat berlaku massif secara global. Denganmemerintahkan atau mengancam untuk memerintahkan unruk memberlakukan tarif yang lebih besar atau total, maka sebuah Negara dapat memaksa pesaing ekonominya untuk menurunkan tarif mereka.

Pemerintah secara teratur menetapkan tarif impor atas produk asing yang juga diproduksi di dalam negeri. Disamping menghasilkan pendapatan pajak, tarif bertujuan untuk mempertahankan pasar ekslusif bagi bisnis domestik atau menawarkan proteksi kompetitif bagi manufaktur asing yang efisien atau jasa yang diberikan.

BAB III

DATA

Krisis yang melanda anggota Uni Eropa pada Tahun 2010 lalu diawali dengan terjadinya ketidakmampuan Yunani membayar utang dan terkena gempuran sentimen negatif pasar sehingga pemerintah Yunani dipaksa untuk mengambil alih sektor perbankan yang kolaps akibat kredit macet properti. Krisis fiskal di Yunani merupakan akumulasi dari defisit anggarannya yang terus-menerus terjadi rata-rata sebesar 6% dari PDB, selama 30 tahun terakhir. Besarnya defisit anggaran Yunani tersebut adalah dua kali lipat dari ketentuan Uni Eropa (UE), maksimum sebesar 3%.

Karena pasar obligasi di dalam negerinya yang masih dangkal dan sempit, seraya memanfaatkan tingkat suku bunga yang lebih rendah di luar negeri, Yunani menjual SUN-nya terutama pada investor di Prancis, Swiss, dan Jerman. Krisis ini kemudian berdampak luas sehingga melebar ke negara-negara Eropa lain seperti Portugal, Irlandia, Spanyol, Italia, dan kekhawatiran global dan krisis utang mengakibatkan krisis ekonomi di zona Euro sehingga kurs mata uang Eropa mengalami kemerosotan sampai titik terendah di tahun 2010.

Bagi Indonesia, Uni Eropa adalah mitra dagang terbesar ke-4 dimana Uni Eropa memberikan sekitar 10% jumlah perdagangan Indonesia pada tahun 2008. Dimana 79% ekspor Indonesia didominasi oleh bidang nonmigas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 1 Maret 2011, total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang tahun 2010 mencapai USS 13,5 miliar. Masing-masing ke Jerman USS 2,3 miliar, Inggris USS 1,4 miliar, Prancis USS 870 juta, serta negara-negara Uni Eropa lainnya USS 8,9 miliar. Pada Januari 2010, terjadi penurunan ekspor nonmigas hampir ke semua negara tujuan utama Indonesia dibanding Desember 2009. Ekspor nonmigas ke Prancis pada Januari turun USS 39,5 juta dan ke Inggris turun US$ 1,3 juta.

Sementara untuk ekspor migas, Indonesia mengalami gejolak yang signifikan akibat pengaruh krisis global. Ternyata krisis ekonomi global di Tahun 2008 berpengaruh terhadap ekspor migas Indonesia dan surplus neraca perdagangan justru terjadi pada bidang non migas, yakni mencapai USD2,4 miliar. Hal itu meningkat 56% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Pada Februari 2011 surplus mencapai USD2,4 miliar justru sektor migas defisit USD3,1 juta, hal itu terjadi akibat dampak krisis Mesir.[5]

Nilai perdagangan Indonesia- Uni Eropa tercatat sebagai berikut:

  1. Ekspor Indonesia ke Uni Eropa pada periode Januari – April 2005 berjumlah sebesar € 1,39 milyar, turun 4,2% jika dibandingkan dengan ekspor periode yang sama ditahun 2004 yang berjumlah sebesar € 1,42 milyar.
  2. Neraca perdagangan Uni Eropa – Indonesia pada periode Januari – April 2005 naik sebesar 18,8% dibanding pada tahun 2004 pada periode yang sama.
  3. Pada 2006 dan 2007 surplus Indonesia tercatat USD6,0 miliar dan USD5,6 miliar.
  4. Dengan rata-rata pertumbuhan 6% per tahun antara tahun 2004 dan 2008, dan sebuah rekor arus perdagangan yang hampir mencapai € 20 miliar pada tahun 2008. Bagi indonesia, Uni Eropa adalah mitra dagang terbesar ke-4 dimana Uni Eropa memberikan sekitar 10% jumlah perdagangan Undonesia pada tahun 2008. Ekspor Indonesia ke Uni Eropa pada tahun 2008 tercatat sebesar 15,45 milyar dollar AS, sedangkan impor Indonesia dari UE pada tahun 2008, tercatat sebesar US$ 10,5 milyar dollar AS. [6]
  5. Pada tahun 2009, dalam bidang perdagangan Uni Eropa dan Indonesia mengalami peningkatan. Meskipun volume perdagangan menurun menjadi € 17 miliar karena adanya penurunan permintaan di Uni Eropa dan Indonesia dikarenakan meluasnya krisis ekonomi global. Namun demikian, pasar Uni Eropa cukup mampu bertahan dibandingkan dengan pasar-pasar di Asia lainnya, dimana ekspor secara signifikan berada di bawah level tahun 2008. Indonesia terus melaporkan surplus yang stabil dalam perdagangannya dengan Uni Eropa, yaitu sekitar € 6-7 miliar pada tahun terakhir.
  6. Negara-negara Uni Eropa merupakan negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia. Dimana 79 % ekspor Indonesia didominasi oleh bidang nonmigas. Sementara untuk ekspor migas, Indonesia mengalami gejolak yang signifikan akibat pengaruh krisis global. Surplus neraca perdagangan yang terjadi pada sektor non migas yakni mencapai USD2,4 miliar. Hal itu meningkat 56 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2010. Pada Februari 2011 surplus mencapai USD2,4 miliar justru sektor migas defisit USD3,1 juta. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tiga negara tujuan utama ekspor non-migas Indonesia ke Uni Eropa adalah Jerman, Perancis dan Mesir. Ekspor Indonesia ke Jerman rata-rata Rp 2,68 triliun/tahun. Sementara ke Prancis Rp1,009 triliun dan Inggris Rp1,52 triliun/tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 1 Maret 2011, total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang tahun 2010 mencapai USS 13,5 miliar. Masing-masing ke Jerman USS 2,3 miliar, Inggris USS 1,4 miliar, Prancis USS 870 juta, serta negara-negara Uni Eropa lainnya USS 8,9 miliar. Pada Januari 2010, terjadi penurunan ekspor nonmigas hampir ke semua negara tujuan utama Indonesia dibanding Desember 2009. Ekspor nonmigas ke Prancis pada Januari turun USS 39,5 juta dan ke Inggris turun US$ 1,3 juta.[7]

BAB IV

ANALISIS DATA

Sebagai salah satu kawasan yang selama ini menjadi tujuan ekspor Indonesia, Uni Eropa menjadi perhatian khusus bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspornya ke sana, meskipun sebenarnya Indonesia bukanlah  salah satu mitra dagang yang utama bagi Uni Eropa, seperti Amerika, China, Swiss, Rusia atau Jepang, karena tercatat pada tahun 2004 pangsa impor UE dari Indonesia hanya sebesar 1,0%. Tapi pada tahun itu Indonesia perlu sedikit bangga, karena indonesia mendapat urutan 3 besar yang memperoleh fasilitas pengurangan bea masuk melalui skema Generalized System of Preference (GSP) UE yang diberikan kepada 178 negara berkembang.

Dengan adanya efek domino dari krisis finansial yang merambat ke Negara-negara lain di Uni Eropa memberikan dampak yang cukup luas terhadap perekonomian dunia. Namun demikian, pasar Uni Eropa cukup mampu bertahan dibandingkan dengan pasar-pasar di Asia lainnya, dimana ekspor secara signifikan berada di bawah level tahun 2008. Indonesia terus melaporkan surplus yang stabil dalam perdagangannya dengan Uni Eropa, yaitu sekitar € 6-7 miliar pada tahun terkhir.

Dengan mengamati data terkait dengan jumlah ekspor Indonesia ke Uni Eropa, meluasnya dampak lanjutan Krisis Eropa 2011 merupakan tantangan tersendiri. Pasalnya, Uni Eropa merupakan salah satu tujuan ekspor nonmigas Indonesia yang potensial. Namun ini tidak serta merta memberikan pengaruh yang besar terhadap perekonomian Indonesia karena terlihat dari cadangan devisa Indonesia yang terus mengalami kenaikan hingga US$78,5 miliar di posisi bulan April 2010. Membaiknya kondisi ekonomi dan keuangan Indonesia bisa dilihat dari stabilnya tingkat inflasi dan suku bunga yang berlaku. Sementara fluktuasi pasar modal juga cenderung mengalami menurun.

BAB V

PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Krisis yang terjadi di Uni Eropa

Adanya krisis yang melanda Eropa sebenarnya baru terdeteksi pada akhir 2009 yang dipicu oleh melonjaknya beban utang dan defisit fiskal negara anggota Uni Eropa, utamanya Yunani. Meskipun sejak tahun 2000 hingga 2007, Yunani dikenal sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Eropa, akibat meningkatnya investasi asing yang membanjiri Negara tersebut.

Rata-rata pertumbuhan ekonomi Yunani tumbuh sebesar 4,2% per tahun dan rendahnya yield obligasi pemerintah sebagai refleksi dari rendahnya country risk memungkinkan pemerintah Yunani berhutang dengan menerbitkan obligasi secara terus menerus guna membiayai sektor publiknya. Hal ini terus berlanjut setelah diluncurkannya Euro, dimana pemerintah Yunani mempunyai kesempatan untuk melakukan pinjaman dengan mata uang Euro yang bernilai tinggi dengan bunga yang rendah karena rendahnya country risk Yunani. Pembiayaan yang tidak terkendali membuat Yunani terperangkap pada ratio hutang terhadap product domestic bruto (GDP) yang besar yaitu diatas 100% pada saat itu.

Pada tahun 2009, krisis subprime mortgage yang melanda dunia memberikan pukulan telak terhadap perekonomian Yunani, dua industri terbesar di Negara tersebut yaitu industri pelayaran serta pariwisata mengalami tekanan hebat sehingga menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan sebesar 15% pada tahun 2009. Pemerintah Yunani kemudian membayar beberapa bank krediturnya untuk menutupi nilai hutang Yunani yang sesungguhnya sebagai upaya untuk memastikan bahwa kondisi perekonomian Negara itu masih terkendali. Hingga pada akhirnya rekayasa terhadap laporan keuangan Yunani terbongkar, dan pada akhir tahun 2009 pemerintah George Papandreou merevisi defisit anggaran pemerintahnya menjadi 12.7% terhadap produk domestic bruto (GDP) dari sebelumnya 6%.

Keterpurukan Yunani terus berlanjut, karena pada tanggal 27 April 2010, lembaga rating internasional Standard & Poor’s menurunkan rating hutang Yunani menjadi BB+ yang merupakan rating untuk junk bond dikarenakan tingginya kekhawatiran pasar terhadap ketidakmampuan Yunani untuk membayar hutangnya dan membeli kembali obligasinya. Penurunan rating hutang Yunani kemudian juga dilakukan oleh the Fitch dan Moody. Setelah penurunan rating tersebut kondisi perekonomian Yunani terus memburuk, dimana pada bulan mei 2010, defisit anggaran pemerintah yunani melonjak menjadi 13.6%, dan merupakan defisit anggaran terbesar di dunia dengan rasio hutang terhadap GDP sebesar 115%.

Kondisi perekonomian Yunani yang morat marit pada akhirnya mendorong kekhawatiran pasar bahwa kondisi tersebut akan berimplikasi ke Negara lainnya di Eropa, terutama ke Eropa Selatan atau yang sering disebut dengan PIGS (Portugal, Italy, Greece and Spain). Perlu diketahui bahwa kelompok Negara tersebut memiliki kondisi perekonomian yang mirip, dimana rata-rata Negara tersebut memiliki rasio hutang terhadap PDB yang besar, serta terperangkap oleh defisit anggaran yang tinggi dalam membiayai sector publiknya. Kesamaan karakteristik inilah yang menjadi kekhawatiran pasar, karena hal ini mengingatkan pasar terhadap krisis Asia 1998 dimana krisis yang terjadi di Argentina, menjalar ke Thailand hingga ke Indonesia akibat adanya kesamaan karakter ekonomi ketiga Negara tersebut.

Hingga akhirnya, kekhawatiran pasar terhadap implikasi krisis hutang Yunani ke Negara lainnya di Eropa menjadi kenyataan, karena seperti diberitakan Blommberg pada tanggal 29 Mei 2010, The fitch akhirnya menurunkan rating hutang Spanyol menjadi AA+ dengan outlook stabil. Penurunan rating hutang Spanyol dari AAA yang telah dipertahankan selama 7 tahun (sejak tahun 2003) menjadi AA+ pada tahun ini tentunya menandakan bahwa kondisi perekonomian spanyol menurun.

Krisis ini ternyata juga menjalar ke Negara lain karena tepatnya pada 4 Juni 2010, Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, mengatakan bahwa kondisi perekonomian Hungaria sedang berada pada kondisi yang sangat kritis atau very grave situation, akibat munculnya kekhawatiran akan defaultnya kredit perumahan di Hungaria. Kondisi tersebut pada akhirnya menjadi trigger utama melemahnya Euro terhadap USD menjadi US$ 1.196 yang merupakan titik terendah Euro terhadap USD dalam 4 tahun terakhir.[8]

Krisis Yunani menimbulkan efek domino bagi Negara lain di Uni Eropa, Negara-negara Eropa khususnya Irlandia, Yunani, Spanyol, dan Portugal saat ini mengalami krisis defisit anggaran yang besar. Adanya krisis ini merembet ke negara lainnya khususnya Uni Eropa, dan dikhawatirkan mempengaruhi ekonomi dunia secara keseluruhan. Hal itu  dikarenakan dari sisi beban utang dalam Maastricht Benchmark sudah disepakati bahwa rasio utang pemerintah terhadap PDB tidak boleh melampaui 60 %, namun banyak negara Uni Eropa yang melanggar ketentuan ini, seperti Italia (115,8 %), Yunani (115,1 %), Prancis (77,6 %), Portugal (76,8 %), Jerman (73,2 %), Inggris (68,1 %), dan Irlandia (64 %).

Sementara dari sisi defisit fiskal dimana rasionya terhadap PDB tidak boleh lebih dari dari 3 persen, pada 2010 ada 12 negara yang melanggar konsensus ini, seperti Irlandia (14,3 %), Yunani (13,5 %), Inggris (11,3 %), Spanyol (11,2 %), Portugal (9,4 %), Prancis (7,6 %), Belanda (6,1 %), Italia (5,2 %), Belgia (4,8 %), Austria (4,7 %), Finlandia (3,6 %), dan Jerman (3,3 %). [9] Akibatnya, beberapa waktu lalu bursa saham dan pasar finansial Eropa mengalami kejatuhan yang terindikasi dari pelarian modal (capital flight) secara masif dari pasar Eropa ke negara-negara yang dianggap lebih aman seperti AS. Selain itu, Krisis Eropa telah melemahkan permintaan agregat dan produktivitas industri dalam beberapa waktu terakhir.

  1. B. Ekspor Indonesia ke Uni Eropa

Perkembangan hubungan bilateral RI-Uni Eropa dirintis sejak tahun 1967 di bawah kerangka ASEAN ketika UE masih berbentuk Masyarakat Ekonomi Eropa (European Economic Community). Dan Indonesia menjadikan Uni Eropa sebagai mitra perdagangan dan pasar tujuan ekspor yang potensial. UE merupakan pasar utama terbesar bagi Indonesia setelah Amerika Serikat dan Jepang. Dalam lima tahun terakhir, kinerja perdagangan Indonesia-Uni Eropa terus meningkat dan selalu mendatangkan surplus bagi Indonesia sebesar rata-rata USD5,16 miliar per tahunnya.

Namun terjadinya penurunan ini, menurut Menteri perdagangan lebih dikarenakan adanya beberapa regulasi Uni Eropa yang menghambat ekspor Indonesia ke Eropa, termasuk ke Swedia. Ekspor yang terhambat misalnya Renewal Energy Directive (RED) menyebabkan menurunnya ekspor CPO Indonesia ke Swedia. Namun ini akan diselesaikan melalui Working Group on Trade and Investment (WGTI) Indonesia-Uni Eropa Indonesia dan EU telah membahas dan mencari solusi yang menguntungkan kedua pihak, termasuk untuk isu standard.[10]

Selain itu penurunan ekspor ke Uni Eropa juga lebih dipengaruhi oleh adanya krisis yang dialami oleh Mesir yang menjadi jalur perdagangan yang membawa barang-barang ke Uni Eropa, khususnya furnitur. Potensi kehilangan itu dihitung dari potensi kehilangan ekspor dari negara Eropa yang mencapai 40 juta dollar (Rp 360 miliar), karena seluruh barang furnitur Indonesia melalui Mesir. [11]

Namun secara umum dilihat dari sektor impor dan ekspor Uni Eropa dari Indonesia mengalami fluktuasi. Dalam beberapa bidang seperti pertanian mengalami peningkatan di tiap tahunnya, hal ini berdasarkan grafik eurostat, sedangkan dalam barang setengah jadi buatan pabrik lainnya mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir.

  1. C. Dampak Krisis Uni Eropa terhadap Ekspor Indonesia ke Uni Eropa

Namun menurut beberapa ahli ekonomi, termasuk Fauzi Budi, Krisis finansial Yunani yang dikhawatirkan menjalar ke Portugal dan Spanyol hanya terjadi di Negara-negara Eropa Selatan. Sementara penopang utama ekonomi Eropa adalah negara-negara Eropa Utara seperti Jerman dan Prancis, Negara Skandinavia dan Benelux (Belanda,Belgia dan Luxemburg). Sehingga ini diprediksi tidak akan terlalu mempengaruhi ekspor Indonesia ke Uni Eropa, terlebih ekspor Indonesia ke Yunani sebagai Negara yang paling mengalami dampak dari krisis ini tidak begitu besar.

Pada tahun 2011 ekonomi Indonesia diperkirakan semakin prospektif. Berbagai publikasi internasional, seperti WEO dan Consensus Forecast memproyeksikan laju PDB Indonesia pada 2011 akan lebih tinggi dibanding 2010, yakni pada tingkat 6,2 persen. Meskipun diwarnai sejumlah sinyal positif, namun potensi datangnya tantangan pada tahun 2011 tetap perlu diwaspadai. Dari perspektif global, salah satu tantangan berasal dari meluasnya dampak Krisis Eropa.

Bagi Indonesia, meluasnya dampak lanjutan Krisis Eropa 2011 merupakan tantangan tersendiri. Pasalnya, Uni Eropa merupakan salah satu tujuan ekspor nonmigas Indonesia yang potensial. Dalam lima tahun terakhir, kinerja perdagangan Indonesia-Uni Eropa terus meningkat dan selalu mendatangkan surplus bagi Indonesia sebesar rata-rata USD5,16 miliar per tahunnya. Berlanjutnya Krisis Eropa pada 2011 berpotensi menurunkan kinerja ekspor Indonesia ke kawasan tersebut yang pada gilirannya bisa menghambat ekspansi ekonomi pada 2011.

Pengamat Ekonomi Faisal Basri menilai bahwa dampak krisis yang saat ini sedang melanda kawasan Eropa tidak akan signifikan terhadap sektor ekonomi dan pasar modal Indonesia layaknya krisis Amerika pada 2008 yang lalu. Pasalnya, cadangan devisa Indonesia terus mengalami kenaikan hingga US$78,5 miliar di posisi bulan April 2010. Bagusnya kondisi ekonomi dan keuangan Indonesia bisa dilihat dari stabilnya tingkat inflasi dan suku bunga yang berlaku. Sementara fluktuasi pasar modal juga cenderung mengalami menurun.

Krisis Eropa juga tidak akan berpengaruh besar terhadap perekonomian Indonesia secara menyeluruh. Sebab, ketergantungan Indonesia terhadap pasar Eropa sangat kecil. Hal ini terlihat dari prosentasi ekspor Indonesia ke berbagai negara di wilayah Eropa seperti Yunani, negara di Eropa yang mengalami krisis terparah saat ini masih sangat kecil. Ekspor ke Eropa yang relatif besar adalah ke negara Jerman dan Perancis yang kondisinya masih sangat kuat.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu juga mengungkapkan hingga kini pemulihan ekonomi Eropa belum terjadi secara penuh. Sehingga potensi adanya krisis Eropa terhadap kinerja ekspor Indonesia ke Eropa masih berpotensi berdampak, meski tidak akan secara signifikan. Menurut Mari, justru negara yang patut sangat waspada adalah China, terkait krisis Eropa saat ini. Mengingat ketergantungan ekspor China ke Eropa mencapai 30% dari total ekspor negeri tirai bambu tersebut. Ketergantungan eskpor Indonesia terhadap pasar Eropa tidak sebesar China, hanya 11, 4 persen.

Meskipun begitu krisis utang yang dialami oleh Yunani dan negara Eropa Selatan lainnya dikhawatirkan akan menyebabkan Jerman dan Prancis sebagai motor penggerak perekonomian Eropa melepas euro. Jika ini terjadi maka bursa saham global akan anjlok. Investor global akan menarik dananya di bursa-bursa Asia, khususnya dari pasar negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Namun langkah-langkah antisipasi yang diambil Eropa akan mampu meredam gejolak krisis.

BAB VI

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan
    1. Krisis Eropa yang diawali dengan kejatuhan perekonomian Negara anggota Uni Eropa yang dipicu oleh melonjaknya beban utang dan defisit fiskal negara anggota Uni Eropa, utamanya Yunani. Kondisi perekonomian Yunani yang morat marit pada akhirnya mendorong kekhawatiran pasar bahwa kondisi tersebut akan berimplikasi ke Negara lainnya di Eropa, terutama ke Eropa Selatan atau yang sering disebut dengan PIGS (Portugal, Italy, Greece and Spain) karena kelompok Negara tersebut memiliki kondisi perekonomian yang mirip, dimana rata-rata Negara tersebut memiliki rasio hutang terhadap PDB yang besar, serta terperangkap oleh defisit anggaran yang tinggi dalam membiayai sector publiknya.
    2. Ekspor Indonesia ke Uni Eropa terus meningkat dan selalu mendatangkan surplus bagi Indonesia sebesar rata-rata USD5,16 miliar per tahunnya. Namun terjadi penurunan di beberapa sektor karena pengaruh krisis ekonomi yang melanda Uni Eropa.
    3. 3. Ada dampak yang ditimbulkan krisis Uni Eropa terhadap ekspor Indonesia ke kawasan itu, meskipun kecil. Karena Indonesia hanya memiliki ketergantungan terhadap pasar Eropa sebesar 11,4 %. Meskipun dikhawatirkan jika ini menyebar ke Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor utama seperti Jerman dan perancis maka itu akan menimbulkan dampak buruk terhadap ekspor Indonesia. Dan dikhawatirkan juga jika krisis ini berlangsung lama dan mempengaruhi perekonomian dunia, maka imbasnya akan sampai ke Indonesia.
    4. Saran
      1. Krisis Yunani yang berimbas ke Negara-negara lainnya di Uni Eropa harus segera ditangani oleh Uni Eropa sebagai organisasi regional di kawasan itu.
      2. Dengan adanya krisis di Uni Eropa yang menjadi tujuan ekspor Indonesia dengan ketergantungan ekspor 11, 4 % maka Indonesia harus secepatnya mencari pasar alternatif untuk memasarkan produknya, misalnya ke Negara di Asia Tenggara, India dan Asia Timur yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Curry, E. Jeffrey, MBA, Ph.D. 2001. Memahami Ekonomi Internasional : Memahami Dinamika Pasar Global.  Jakarta : Penerbit PPM.

Tambunan, Tulus. 1996. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Website

Kabar Bisnis, 2009, Grafik nilai ekspor Agustus meningkat Diakses dari http://www.kabarbisnis.com/read/286066 pada Tanggal 7 Mei 2011 pukul 19.38 WITA

Kampekique, 2011,  Kerjasama Antara Indonesia dan Uni Eropa, diakses dari http://kampekique.wordpress.com/2011/01/18/kerjasama-antara-indonesia-dan-uni-eropa/

pada Tanggal 7 Mei 2011 pukul 18.46 WITA

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Kebijaksanaan Umum dan Politik Luar Negeri RI – Uni Eropa (UE), diakses dari http://www.deplu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=RegionalCooperation&IDP=15&P=Regional&l=id pada Tanggal 7 Mei 2011 pada pukul 14.09 WITA

Koran Tempo. 2010. Aturan Impor Eropa Ancam Ekspor Indonesia. Diakses dari http://bataviase.co.id/node/124830 pada Tanggal 6 Mei 2011 pada Pukul 11.59 WITA

Mirania. 2011. Perekonomian Indonesia 2011 ; Antara Krisis Eropa dengan OJK di Indonesia. Diakses dari http://miraniazalina.blogspot.com/2011/04/tulisan-4-perekonomian-indonesia.html pada Tanggal 6 Mei 2011 pada Pukul 11.40 WITA

Official Blog Asmindo jepara. Krisis Mesir : Ekspor RI ke Eropa-Afrika Tersendat. Diakses dari http://asmindojepara.blogspot.com/2011/02/krisis-mesir-ekspor-ri-ke-eropa-afrika.html pada Tanggal 6 Mei 2011 pada Pukul 12.02 WITA

Pangestu, Mari Elka. 2011. Kebijakan Ekonomi Eropa Hambat Ekspor. Diakses dari http://citraindonesia.com/mendag-kebijakan-uni-eropa-hambat-ekspor/ pada Tanggal 6 Mei 2011 pada Pukul 12.02 WITA


[1] opcit

[2] Curry, E. Jeffrey, MBA, Ph.D. 2001. Memahami Ekonomi Internasional : Memahami Dinamika Pasar Global.  Jakarta : Penerbit PPM, Hal. 63.

[3] Tambunan Tulus, 1996, Perekonomian Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia.

[4] ibid

[5]Kampekique, 2011,  Kerjasama Antara Indonesia dan Uni Eropa, diakses dari http://kampekique.wordpress.com/2011/01/18/kerjasama-antara-indonesia-dan-uni-eropa/

Pada Tanggal 7 Mei 2011 pukul 18.46 WITA

[6] Kampekique, 2011,  Kerjasama Antara Indonesia dan Uni Eropa, diakses dari http://kampekique.wordpress.com/2011/01/18/kerjasama-antara-indonesia-dan-uni-eropa/

pada Tanggal 7 Mei 2011 pukul 18.46 WITA

[7] Kabar Bisnis, 2009, Grafik nilai ekspor Agustus meningkat Diakses dari http://www.kabarbisnis.com/read/286066 pada Tanggal 7 Mei 2011 pukul 19.38 WITA

[8] Koran Tempo. 2010. Aturan Impor Eropa Ancam Ekspor Indonesia. Diakses dari http://bataviase.co.id/node/124830 pada Tanggal 6 Mei 2011 pada Pukul 11.59 WITA

[9] Mirania. 2011. Perekonomian Indonesia 2011 ; Antara Krisis Eropa dengan OJK di Indonesia. Diakses dari http://miraniazalina.blogspot.com/2011/04/tulisan-4-perekonomian-indonesia.html pada Tanggal 6 Mei 2011 pada Pukul 11.40 WITA

[10] Pangestu, Mari Elka. 2011. Kebijakan Ekonomi Eropa Hambat Ekspor. Diakses dari http://citraindonesia.com/mendag-kebijakan-uni-eropa-hambat-ekspor/ pada Tanggal 6 Mei 2011 pada Pukul 12.02 WITA

[11] Official Blog Asmindo jepara. Krisis Mesir : Ekspor RI ke Eropa-Afrika Tersendat. Diakses dari http://asmindojepara.blogspot.com/2011/02/krisis-mesir-ekspor-ri-ke-eropa-afrika.html pada Tanggal 6 Mei 2011 pada Pukul 12.02 WITA

One Response

  • DAMPAK KRISIS EKONOMI UNI EROPA TERHADAP EKSPOR INDONESIA | roemah mayakoe I was suggested this blog by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as no one else know such detailed about my trouble. You are wonderful! Thanks! your article about DAMPAK KRISIS EKONOMI UNI EROPA TERHADAP EKSPOR INDONESIA | roemah mayakoe Best Regards Lawrence Craig

Slideshow

Get the Flash Player to see the slideshow.